Rss Feed
    Tampilkan postingan dengan label lagu nasional. Tampilkan semua postingan
    Tampilkan postingan dengan label lagu nasional. Tampilkan semua postingan
  1. Puisi untuk Ibu Pertiwi

    Sabtu, 15 Juni 2013

    Ibu Pertiwi adalah lagu patriotik Indonesia populer yang walaupun seringkali diakukan bahwa ditulis oleh Ismail Marzuki, sebenarnya disusun dan ditulis oleh komposer yang tidak dikenal sekitar tahun 1950-an hingga 1960-an. Lirik lagu ini adalah tentang Ibu Pertiwi,personifikasi nasional dari Indonesia atau nusantara. Lagu ini biasanya dinyanyikan oleh anak-anak sekolah di Indonesia, dari Sekolah Dasar dan siswa Sekolah Menengah, atau dimainkan dalam orkes selama perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia.

    Ibu Pertiwi merupakan personifikasi nasional Indonesia, sebuah perwujudan tanah air Indonesia. Sejak masa prasejarah, berbagai suku bangsa di kepulauan Nusantara sudah menghormati roh alam dan kekuatan bumi, mereka mengibaratkannya sebagai ibu yang memberikan kehidupan, sebagai dewi alam dan lingkungan hidup. Setelah diserapnya pengaruh Hindu sejak awal millenia pertama di nusantara, dia dikenal sebagai Dewi Pertiwi, dewi bumi.

    Ibu Pertiwi populer dalam berbagai lagu dan puisi perjuangan bertema patriotik, seperti lagu "Ibu Pertiwi" dan "Indonesia Pusaka". Dalam lagu kebangsaan "Indonesia Raya", lirik dalam bait "Jadi pandu ibuku", kata "ibu" disini merujuk kepada Ibu Pertiwi. Meskipun Ibu Pertiwi populer dalam berbagai lagu dan puisi perjuangan, perwujudan fisik dan citranya jarang ditampilkan di media massa Indonesia.

    Sebuah catatan masih tercecer dari acara yang diselenggarakan semalam sebelum penutupan program World Music Festival 2008 – GKJ. Tepat pada malam ke 16 di bulan Desember, sebuah kolaborasi pembacaan puisi & nyanyian, diberi titel ‘’Generasi Dalam Dialog’’, hadir dengan iringan Skolastika Ansamble yang dikomandani oleh Marusya Nainggolan.

    Binu Sukaman, salah satu penyanyi seriosa terbaik milik negeri ini, membuka acara dengan lagu “Ibu Pertiwi”. Lagu tersebut terasa begitu menggambarkan kondisi negeri tercinta ini. 

    Betapa Ibu Pertiwi kini sedang bersusah hati… merintih dan berdo’a… melihat proses penzaliman tanpa kendali atas simpanan kekayaan alam negeri ini… hutan, gunung, sawah & lautan… yang acap hanya untuk kemakmuran segelintir golongan… tanpa pernah kembali untuk dinikmati oleh bangsanya…

    kulihat ibu pertiwi
    sedang bersusah hati
    air matamu berlinang
    mas intanmu terkenang

    hutan gunung sawah lautan
    simpanan kekayaan
    kini ibu sedang susah
    merintih dan berdoa

    kulihat ibu pertiwi
    kami datang berbakti
    lihatlah putra-putrimu
    menggembirakan ibu

    ibu kami tetap cinta
    putramu yang setia
    menjaga harta pusaka
    untuk nusa dan bangsa


    Duhai ibu pertiwi… takkan heran pabila dikau bersusah hati… berlinang air mata… menyaksikan betapa kini lebih banyak yang merambah harta pusaka ketimbang menjaganya…

    Sumber:


  2. Di Balik Lagu Halo Halo Bandung

    Kamis, 06 Juni 2013

    Halo, Halo Bandung adalah salah satu lagu perjuangan Indonesia yang menggambarkan semangat perjuangan rakyat kota Bandung dalam masa pasca-kemerdekaan pada tahun 1946, khususnya dalam peristiwa Bandung Lautan Api yang terjadi pada tanggal 29 Maret 1946

    Dalam peristiwa Bandung Lautan Api, rakyat Bandung membakar kota Bandung untuk mencegah kota tersebut dikuasai oleh tentara sekutu dan tentara NICA Belanda yang hendak merebut Indonesia kembali setelah pasukan Jepang menyerah tanpa syarat kepada pasukan Sekutu dalam Perang Dunia II dan menarik pasukannya dari Indonesia.

    Lagu Halo, Halo Bandung menjadi sangat terkenal dan menjadi simbol perjuangan bangsa Indonesia dalam perebutan kemerdekaan mereka dari jajahan bangsa asing. Sampai hari ini sebagian masyarakat Indonesia meyakini bahwa lagu tersebut diciptakan oleh salah satu maestro musik Indonesia, Ismail Marzuki, namun sebagian kalangan juga masih meragukan hal tersebut, karena sumber informasi yang tak jelas mengenai lagu tersebut, ditambah dengan kondisi industri musik Indonesia yang kurang memprioritaskan perlindungan hak cipta.

    Yang menciptakan

    Nama pencipta resmi dari lagu Halo, Halo Bandung masih diragukan sebagian masyarakat Indonesia. Perdebatan tentang siapa pencipta lagu Halo-Halo Bandung sebenarnya sudah lama terjadi. Di dalam buku Saya Pilih Mengungsi: Pengorbanan Rakyat Bandung untuk Kedaulatan yang ditulis Ratnayu Sitaresmi, Pestaraja HS Marpaung menyebutkan bahwa polemik itu mulai terjadi pada 1995. Pestaraja Marpaung adalah salah seorang pejuang yang sempat bergabung ke dalam Pasukan Istimewa (PI) Indonesia dan turut terlibat langsung dalam peristiwa Bandung Lautan Api.

    Komponis senior Indonesia, AT Mahmud, membenarkan adanya polemik tersebut, dengan menyebutkan bahwa lagu tersebut tidak diketahui siapa penciptanya, menurut kutipan dari surat kabar Pikiran Rakyat edisi 23 Maret 2007.

    ""Informasi yang saya dengar, lagu tersebut, seharusnya, NN (No Name; Pencipta tak diketahui-red.)". Saya sendiri tak tahu bagaimana kemudian lagu itu jadi ciptaan Ismail Marzuki,” ungkapnya, ketika dihubungi, Kamis (22/3) petang. "


    Anggapan lagu diciptakan oleh Ismail Marzuki


    Sejauh ini, masyarakat Indonesia menganggap bahwa lagu perjuangan tersebut merupakan ciptaan Ismail Marzuki, berdasarkan informasi dari bermacam sumber. Akan tetapi, banyak orang yang meragukannya. Hal ini disebabkan karena berkecenderungan Ismail untuk mencipta lagu-lagu berirama lambat dan romantis. Sementara Halo-Halo Bandung dimasukkan dalam kategori lagu mars yang berirama cepat dan heroik.

    Keraguan masyarakat ini ditentang oleh pengamat musik Indonesia yang mengatakan bahwa Ismail Marzuki adalah pencipta lagu yang dinamis. Mereka tetap meyakini Ismail Marzuki sebagai pencipta lagu tersebut karena terdapat sisi romantisme yang adalah ciri khas Ismail Marzuki dalam lagu tersebut.


    Anggapan lagu diciptakan oleh Cornel Simanjuntak


    Anggapan ini muncul dari buku-buku cetak sekolah maupun sumber akademis yang kerap kali menuliskan bahwa Cornel Simanjuntak, salah seorang pencipta lagu dan pahlawan nasional Indonesia kelahiran Sumatera Utara, adalah pencipta lagu Halo-Halo Bandung.


    Anggapan lagu diciptakan oleh Bona L Tobing
    Ibu Kasur, salah seorang tokoh komponis senior Indonesia, mengatakan bahwa mendiang suaminya, Pak Kasur yang juga tokoh komponis Indonesia, mengatakan bahwa lagu tersebut diciptakan oleh seseorang bernama Tobing, menurut surat kabar Pikiran Rakyat edisi yang sama.

    Dalam buku Saya Pilih Mengungsi, Pestaraja Marpaung menyatakan bahwa Bona L Tobing adalah orang yang pertama kali mengucapkan "Halo! Halo Bandung!" yang menjadi sumber inspirasi lagu tersebut. Seperti dikutip dari surat kabar Pikiran Rakyat yang sama lagi.

    "Ceritanya, pada suatu malam, di Ciparay, diselenggarakan perayaan Batak. Di sana, disediakan pula sebuah panggung dan memberikan kesempatan kepada pengunjung yang ingin menyumbangkan lagu. Seorang pemuda Batak bernama Bona L. Tobing, tiba-tiba menyapa, "Halo!" kepada Kota Bandung di kejauhan, “Halo Bandung!". Kemudian sapaan itu memiliki irama, “Halo-Halo Bandung” seperti irama yang dikenal saat ini. "Akan tetapi, irama itu tidak selesai karena malam sudah larut,".


    Anggapan lagu diciptakan oleh para pejuang Bandung Selatan


    Di dalam buku Saya Pilih Mengungsi, Pestaraja Marpaung, yang akrab dipanggil Bang Maung, menyebutkan bahwa lagu tersebut bukan ciptaan perseorangan melainkan merupakan ciptaan bersama para pejuang di Ciparay, Bandung Selatan, tanpa melihat asal-usul suku bangsa. Hal tersebut dicerminkan dengan penggunaan kata "Halo!" yang adalah sapaan khas pemuda dari Medan, Sumatera Utara, yang ditimbulkan dari pengaruh film-film koboi dari Amerika yang sering diputar pada waktu itu. Ditambah dengan penggunaan kata "beta", bahasa daerah Ambon, Maluku, yang berarti "saya".

    Berikut kutipan dari buku Saya Pilih Mengungsi tentang cerita Pestaraja Marpaung mengenai penciptaan lagu Halo-Halo Bandung.

    "Sebagai pejuang, Bang Maung pun turut menyusup ke Kota Bandung, setiap malam, setelah peristiwa Bandung Lautan Api. "Siang hari tidak ada kerja. Jadi di Ciparay ini, anak-anak Bandung dari Pasukan Istimewa tiduran. ‘Eh, lagu yang kemarin itu mana? Halo! Halo Bandung! de-de-de— (berirama menurun).’ Setelah lama, orang Ambon juga ikut. Pemuda Indonesia Maluku itu, di antaranya Leo Lopulisa, Oom Teno, Pelupessy. Sesudah Halo-Halo Bandung, datang orang Ambonnya. Sudah lama beta! tidak bertemu dengan kau!’ Karena itu, ada ‘beta’ di situ. Bagaimana kata itu bisa masuk kalau tidak ada dia di situ. Si Pelupessy-lah itu, si Oom Tenolah itu, saya enggak tahu. Tapi, sambil nyanyi bikin syair. Itulah para pejuang yang menciptakannya. Tidak ada itu yang menciptakan. Kita sama-sama saja main-main begini. Jadi, kalau dikatakan siapa pencipta (Halo-Halo) Bandung? Para pejuang Bandung Selatan,” ucapnya."


    Sumber:



    #NaDaIndonesiaku

  3. Lagu-lagu nasional biasanya bertema patriotis dan memiliki makna yang sangat mendalam, bahkan ada beberapa lagu nasional yang rasanya bisa membakar semangat nasionalisme bila didengarkan ataupun dinyanyikan, seperti salah satunya lagu ‘Berkibarlah Benderaku’ Karya Ibu Soed. Di balik liriknya yang penuh semangat perjuangan ternyata ada cerita yang tidak kalah heroik yang menginspirasi Ibu Soed untuk menulis lagu ini loh! Wah kira-kira seperti apa tuh ceritanya ya? Yuk disimak!

    Banyak lagu Ibu Soed yang menjadi lagu populer abadi, beberapa antara lain: Hai Becak, Burung Kutilang, dan Kupu-kupu. Ketika genting rumah sewaannya di Jalan Kramat, Jakarta, bocor, ia membuat lagu Tik Tik Bunyi Hujan. Lagu wajib nasional yang dia ciptakan adalah Berkibarlah Benderaku dan Tanah Airku. Lagu-lagunya yang lain banyak yang juga telah menjadi populer, a.l. Nenek Moyang, Lagu Gembira, Kereta Apiku, Lagu Bermain, Menanam Jagung, Pergi Belajar, Himne Kemerdekaan, dll.

    Lagu-lagu Ibu Soed, menurut Pak Kasur, salah seorang rekannya yang juga tokoh pencipta lagu anak-anak, selalu mempunyai semangat patriotisme yang tinggi. Sebagai contoh, patriotisme terdengar sangat kental dalam lagu Berkibarlah Benderaku. Lagu itu diciptakan Ibu Soed setelah melihat kegigihan Jusuf Ronodipuro, seorang pimpinan kantor RRI (Radio Republik Indonesia) menjelang Agresi Militer Belanda I pada tahun 1947, dimana Jusuf menolak untuk menurunkan Bendera Merah Putih yang berkibar di kantor RRI, walaupun dalam ancaman senjata api pasukan Belanda.

    Ceritanya bermula pada malam 21 Juli 1945 saat Jusuf yang ketika itu berusia 33 tahun menolak perintah di bawah ancaman senjata dari para serdadu Belanda yang meminta agar dia menurunkan bendera merah-putih yang tengah berkibar. Ancaman senjata, dia balas dengan gertak ancaman pula, "Kalau memang bendera harus turun, maka dia akan turun bersama bangkai saya!" cecar Jusuf yang lalu mengilhami lahirnya sebuah lagu perjuangan yang tidak lain adalah Berkibarlah Benderaku.

    Sebagai generasi muda penerus bangsa, sudah selayaknya kita meniru semangat juang dari sosok Jusuf Ronodipuro yang rela mati demi mempertahankan Bendera Merah Putih yang merupakan simbol dan identitas dari bangsa dan negara ini. Kita haruslah memiliki kegigihan dan semangat seperti beliau dengan menumbuhkan rasa nasionalisme dan mencintai tanah air tercinta kita, Tanah air Indonesia! :D

    Nah, sekarang yuk kita sama-sama menumbuhkan nasionalisme dengan menyanyikan lagu perjuangan Berkibarlah Benderaku! Kobarkan semangat cinta tanah air! :D

    Berkibarlah Benderaku
    Berkibarlah benderaku
    Lambang suci gagah perwira
    Di seluruh pantai Indonesia
    Kau tetap pujaan bangsa

    Siapa berani menurunkan engkau
    Serentak rakyatmu membela
    Sang merah putih yang perwira
    Berkibarlah Slama-lamanya

    ***
    Kami rakyat Indonesia
    Bersedia setiap masa
    Mencurahkan segenap tenaga
    Supaya kau tetap cemerlang

    Tak goyang jiwaku menahan rintangan
    Tak gentar rakyatmu berkorban
    Sang merah putih yang perwira
    Berkibarkah Slama-lamanya


    Sumber:


    #NaDaIndonesiaku 




  4. Kamu mungkin lebih mengenal sosok Liberty Manik atau L. Manik sebagai pencipta lagu nasional, namu tahukah kamu bahwa beliau ternyata adalah seorang Intelektual? Beliau adalah orang yang penuh talenta loh, selain pencipta Lagu Ia juga seorang pemain biola, penyanyi, penyiar radio RRI Yogyakarta, penulis buku dan juga jurnalis majalah. Waah hebat sekali kan?
    Nah sekarang yuk sama-sama kita mengenal lebih dekat lagi sosok Liberty Manik :D


    Lagu “Satu Nusa Satu Bangsa” adalah salah satu lagu yang diciptakan komponis Liberty Manik. Laki-laki kelahiran Sidikalang, Sumatera Utara 1924 ini awalnya bernama Raja Tiang Manik dari ayah Raja Patihan Manik dan ibu Salat br. Situmorang. Lagu Satu Nusa Satu Bangsa ini diciptakan pada tahun 1947 di sebuah rumah yang tergolong bagian dari benteng Kraton Yogyakarta Hadiningrat.

    Selama masa revolusi Liberty Manik memang bermukim di Yogyakarta. Dia bersama Cornel Simanjuntak menempuh pendidikandi sekolah guru Muntilan. Selama di Yogyakarta ia menyaksikan kehebatan semangat perjuangan rakyat mempertahankan kemerdekaan. Keadaan ini mengilhami Liberty untuk menciptakan lagu Satu Nusa Satu Bangsa yang memotivasi persatuan dan kesatuan. Pada masa itu ia bekerja di RRI Yogyakarta pada 1945. Lagu ini dibuat guna mengisi kekurangan lagu perjuangan.

    Sebelum masuk sekolah guru, Liberty menempuh pendidikannya, antara lain di Hollands Inlandsche Kweekschool di Mertoyudan, Jawa Tengah. Di sini ia berkenalan dengan Cornel Simanjuntak yang juga telah kita kenal sebagai salah satu pencipta lagu wajib yang banyak dinyanyikan di Indonesia. Dengan masuknya Jepang ke Indonesia pada tahun 1942, HIK Muntilan terpaksa ditutup dan Liberty muda terpaksa bekerja sebagai pemain biola dan penyanyi di Semarang Hoyokyooku.

    Dia tetap melanjutkan pendidikannya dengan jalan berliku, Liberty mencapai bangku kuliah Institut Seni Indonesia di Yogyakarta Sekitar 1949, Liberty pindah kembali ke Jakarta dan bekerja di Majalah Arena yang berada di bawah pimpinan H. Usmar Ismail, dan akhirnya pada tahun 1951 Manik kembali ke kampung halamannya, Sumatera Utara dan masih tetap aktif bergiat dalam kelompok paduan suara di RRI Medan.

    Pada 1950-an Liberty melanjutkan studi ke Jerman. Manik berhasil memperoleh gelar doktor filsafat dengan magna cum laude di Universitas Frein. Disertasinya berjudul Das Arabische Tonsysten Im Mittelalter adalah pengkajian kitab-kitab musik para filsuf muslim seperti Al-Kindi, Al-Farabi, dan Ihwan al-Safa.

    Setelah berkelana selama + 18 tahun di Eropa, beliau pulang ke Indonesia dalam rangka menghadiri upacara Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1972. Setelah menghadiri kegiatan tersebut, Liberty memanfaatkan kunjungannya ke Indonesia itu untuk melakukan riset menyelidiki musik-musik di daerah Tapanuli selama 3 bulan antara lain musik Pakpak-Dairi; Toba; Karo dan Mandailing. Hasil risetnya diterbitkan di Jerman, sayangnya tidak ada pihak di Indonesia yang berusaha untuk menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia.

    Tahun 1976, Liberty kembali ke Indonesia dan bekerja di DGI hingga akhir hayatnya yaitu pada tanggal 16 September 1993 di Yogyakarta, kota yang dicintainya dan dimakamkan di pemakaman seniman di Imogiri, Bantul, Yogyakarta. Demi mengenang putera daerahnya, PEMDA Dairi Sumatera Utara, membangun monumen Liberty Manik di kampung halaman beliau yang telah diresmikan tahun 1997.

    Sepanjang hidupnya, Beliau tak hanya menjadi pencipta lagu, Ia juga pengajar musik di Institut Seni Indonesia (Yogyakarta) yang dikenal sebagai filolog (ahli bahasa) Batak kuno. Ia melakukan kajian yang mendalam mengenai Gondang, musik khas Batak. Selain satu Nusa Satu Bangsa lagu populer lainnya yang diciptakan L. Manik adalah “Desaku Yang Kucinta”. Dia juga menerjemahkan dan mementaskan oratorium Mattheus Passion dan Weichnachtsoratorim karangan JS Bach di Jogyakarta tahun 1980-an. Serta Batak Handschriften. W Voigt (editor)Vol XXVIII Verzeichnis der orientalischen Handschriften in Deutschland, Wiesbaden (1973).

    Itulah dia sedikit riwayat tentang Liberty Manik, semoga sosok beliau bisa menginspirasi kamu ya :D.  Nah sekarang yuk kita mengenang kembali Liberty Manik dengan menyanyikan lagu-lagu ciptaan beliau! Hayoo Kamu masih pada inget nggak? Jangan takut, nih kita kasih Liriknya, kita nyanyi bareng-bareng yuk!

          Satu Nusa Satu Bangsa
    Satu nusa
    Satu bangsa
    Satu bahasa kita

    Tanah air
    Pasti jaya
    Untuk Selama-lamanya

    Indonesia pusaka
    Indonesia tercinta
    Nusa bangsa
    Dan Bahasa
    Kita bela bersama


            Desaku yang Kucinta
    Desaku yang kucinta
    Pujaan hatiku
    Tempat ayah dan bunda
    Dan handai taulanku

    Tak mudah kulupakan
    Tak mudah bercerai
    Selalu kurindukan
    Desaku yang permai


    Sumber:



    #NadaIndonesiaku


  5. Hai blogger!

    Beberapa hari lalu tepatnya tgl 2 Mei, kita telah memperingati Hari Pendidikan Nasional. Hari tersebut diperingati untuk mengenang salah seorang yang berjasa memajukan pendidikan di Indonesia yaitu Ki Hajar Dewantara. Ia lahir di Yogyakarta pada 2 Mei 1889 dan diberi nama Raden Mas Soewardi Soeryaningrat yang berasal dari keluarga di lingkungan kraton Yogyakarta.

    Karya-karya Ki Hajar Dewantara yang menjadi landasan dalam mengembangkan pendidikan di Indonesia diantara adalah kalimat-kalimat filosofis seperti "Ing ngarso sung tulodo, Ing madyo mangun karso, Tut wuri hadayani" yang artinya "Di depan memberi teladan, di tengah memberi bimbingan, di belakang memberi dorongan" menjadi slogan pendidikan yang digunakan hingga saat ini.  

    Pada 3 Juli 1922, Ki Hajar Dewantara mendirikan sebuah perguruan bercorak nasional yang bernama Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa atau Perguruan Nasional Tamansiswa. Dari sinilah lahir konsep pendidikan nasional hingga Indonesia merdeka. 
    Ki Hajar Dewantara diangkat menjadi Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan Pengajaran Indonesia dalam  kabinet pertama Republik Indonesia.Ia juga mendapat gelar doktor kehormatan (doctor honoris causa, Dr.H.C.) dari Universitas Gadjah Mada pada tahun 1957.  


    Atas jasanya dalam merintis pendidikan umum di Indonesia, Ki Hajar Dewantara dinyatakan sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia dan berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No. 305 tahun 1959 tertanggal 28 November 1959, hari kelahiran Ki Hajar Dewantar yaitu tanggal 2 Mei ditetapkan sebagai Hari Pendidikan Nasional.


    Itu dia ulasan singkat asal mula Hari Pendidikan Nasional. Sekarang kita bahas soal lagu apa sih yang menciri khas kan Hari Pendidikan Nasional?

    Daaan, Pilihan kita jatuh padaaaa *drum roll* lagu Hymne Guru yang diciptakan oleh bapak Sartono. Ada yang tau bagaimana sih ceritanya bapak Sartono bisa menciptakan lagu Hymne Guru? Dan siapa sosok beliau sebenarnya?

    Berikut ulasan mengenai bapak Sartono :D
    Sartono (lahir di Madiun, Jawa Timur, 29 Mei 1936; umur 76 tahun) adalah seorang mantan guru seni musik yayasan swasta di Kota Madiun, Jawa Timur, yang dikenal dengan prestasinya dalam menciptakan lagu "Hymne Guru, Pahlawan Tanpa Tanda Jasa" pada tahun 1980-an. Sebuah lagu wajib yang kini selalu dinyanyikan di sekolah-sekolah baik tingkat SD hingga SMA di Indonesia. 


    Sartono tetap hidup sederhana di rumahnya yang berdinding kayu di Jalan Halmahera Nomor 98 Kelurahan Oro-Oro Ombo, Kecamatan Kartoharjo, Kota Madiun. Ia tinggal bersama istrinya, Damiyati, yang juga pensiunan guru SD setempat dan tidak memiliki keturunan.

    Karir musik
    Sartono mempelajari musik secara otodidak tanpa mengenyam pendidikan tinggi tentang musik. Pada tahun 1978, Sartono adalah satu-satunya guru seni musik yang bisa membaca not balok di wilayah Madiun. Karena keterbatasan alat musik yang ia miliki, lagu "Hymne Guru" ia ciptakan dengan bersiul sambil menorehkannya ke dalam catatan kertas.


    Sartono memulai kariernya sebagai guru seni musik pada tahun 1978. Ia adalah guru di sebuah yayasan swasta yang mengajar di SMP Katolik Santo Bernardus, Kota Madiun. Sartono sendiri purnatugas dari sekolah tersebut pada tahun 2002.

    Walaupun penghasilannya dari pekerjaannya sebagai guru pas-pasan, kecintaannya pada musik membuat Sartono menciptakan beberapa buah lagu. Bertepatan dengan momentum Hari Pendidikan Nasional pada tahun 1980, Sartono mengikuti lomba mencipta lagu tentang pendidikan. Dari ratusan peserta, lagu "Hymne Guru, Pahlawan Tanpa Tanda Jasa" ciptaannya, berhasil menjadi pemenang. Selain mendapatkan sejumlah uang sebagai pemenang, Sartono bersama sejumlah guru teladan lainnya di seluruh Indonesia dikirim ke Jepang untuk studi banding.

    Selain lagu "Hymne Guru", Sartono juga menghasilkan delapan buah lagu bertema pendidikan lainnya. Perhatiannya yang demikian serius dalam dunia pendidikan dan pengabdiannya sebagai guru membuahkan penghargaan dari Mendikbud Yahya Muhaimin dan Dirjen Pendidikan Soedardji Darmodihardjo pada saat menciptakan lagu "Hymne Guru". Sartono pernah diminta oleh TNI Angkatan Darat ke Aceh pascabencana Tsunami pada tahun 2004 untuk menghibur dan memberi semangat para guru di Aceh.

    Ini dia lirik dari lagu Hymne Guru ciptaan bapak Sartono

    Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru
    Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku
    Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku
    Sebagai prasasti terima kasihku
    Tuk pengabdianmu

    Engkau sebagai pelita dalam kegelapan
    Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan
    Engkau patriot pahlawan bangsa
    Tanpa tanda jasa


    Makna Hymne Guru 
    Guru adalah pelita dalam kegelapan. Dengan ilmu pengetahuannya, guru menjadi cahaya yang menerangi kebodohan. Lewat sentuhan guru, seseorang memahami ilmu pengetahuan sehingga mampu membangun kehidupan. Guru adalah sosok yang mendidik generasi yang tangguh untuk menciptakan pencerahan di negeri ini. Yang jelas, makna seorang guru tentu saja tidak sekadar bertugas mentransfer ilmu pengetahuan, tapi juga mampu menanamkan nilai-nilai bagi anak-anak didiknya. 



    Sumber:

    http://id.wikipedia.org/wiki/Sartono





    #NaDaIndonesiaku